6 Cara Yang Dibutuhkan Agar DevOps Dapat Lebih Efektif

Untuk organisasi yang cepat dalam menanggapi perubahan teknologi informasi. Anda sedang menuju ke jalan DevOps, ada proses kunci yang perlu untuk di implementasikan agar DevOps dapat lebih efektif memberikan hasil. Sebab, perubahan seringkali menuntut perusahaan untuk menambahkan fitur baru pada software / aplikasi yang sudah berjalan, memodifikasi, ataupun melakukan upgrade.

Cara DevOps Lebih Efektif Memberikan Hasil

Konsep pengembangan yang cepat menanggapi perubahan (Agile) ini memiliki prinsip: “prioritas tertinggi kami adalah untuk memuaskan pelanggan melalui pengiriman lebih awal dan terus menerus untuk software yang berkualitas.” Dalam organisasi Agile, tim software DevOps bertugas hanya sebatas itu. Mereka terus-menerus memperbaiki prosedur penyebaran melalui penggunaan berbagai praktek dan teknik.

Teknik-teknik tersebut, sejalan dengan Konsep Agile dan prinsip-prinsip lean, berusaha untuk menghilangkan kesia-sian dan memberikan software berkualitas tinggi secepat mungkin kepada pelanggan atau pengguna.

6 Langkah Agar DevOps Dapat Lebih Efektif Memberikan Hasil

Mari kita lihat enam praktek pembangunan software yang berfokus pada kecepatan dalam penghantaran software yang disarankan untuk tim DevOps anda.

  1. Pengujian Canary

    Mendapatkan umpan balik dari pelanggan atau pengguna, merupakan salah satu alasan utama tim DevOps software dapat melakukan perubahan dengan cepat. Kemudian umpan balik tersebut dapat digunakan sebagai landasan pengembangan selanjutnya. Pengujian Canary adalah pengujian pengiriman fungsionalitas dari sisi pelanggan. Pengujian canary juga merupakan pengujian otomatis pada sistem yang berjalan dan tidak beresiko menyebabkan masalah di sistem. Pengujian Canary ditujukan agar devops dapat lebih efektif dan efisien dalam melakukan pengujian.

    Dengan membandingkan hasil antara mereka yang mendapatkan fungsi dan mereka yang tidak mendapatkan fungsi, tim memiliki kemampuan untuk mengevaluasi apakah fungsi tersebut memberikan hasil yang diinginkan.

    Sebagai contoh, katakanlah sebuah perusahaan ingin menyediakan fungsi untuk memberikan diskon kepada pengguna sebagai insentif karena membeli lebih banyak; Namun, mereka tidak yakin apakah pengguna akan membeli barang-barang yang tidak mendapatkan diskon tambahan seperti yang diharapkan agar memberikan pendapatan positif secara keseluruhan. Nah, fungsi ini digunakan untuk subset kecil pengguna dan kelulusan dalam pengujian Canary hanya jika memberikan hasil positif. Tim DevOps dapat memutuskan untuk lebih memperluas pengujian Canary pada populasi yang lebih besar untuk meningkatkan tingkat kepercayaan bahwa fungsi tersebut bertindak seperti yang diharapkan sebelum diterapkan ke semua pelanggan mereka.

  2. Pengujian A/B

    Pengujian A / B atau yang juga disebut Split Test, mirip dengan tes Canary dalam mendapatkan umpan balik yang cepat untuk bahan evaluasi tim DevOPs yang berasal dari pelanggan yang sebenarnya. Dengan tes split, beberapa pilihan tersedia secara paralel untuk pengguna. Dengan mengumpulkan data penggunaan, tim DevOps software dapat memperoleh wawasan preferensi pelanggan. Pada akhirnya, ini dapat mendorong penjualan atau kepuasan pelanggan.

    Sebagai contoh, jika ada dua layar yang berbeda pada sebuah aplikasi yang masing-masing memberikan fungsi yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Misal versi yang berbeda pada aplikasi dan fungsi yang sama. Ini semisal anda membuat sebuah artikel dengan 2 judul yang berbeda. Ini dapat membantu pembuatan keputusan tentang pengembangan mendatang. Sehingga konversi dapat diperoleh, oleh karena itu langkah ini sangat diperlukan agar DevOps dapat lebih efektif di perusahaan atau instansi anda.

  3. Pengujian Regresi Secara Otomatis

    Bisa dibilang strategi pembangunan yang paling penting dan banyak diketahui adalah pengujian regresi secara otomatis. Pengujian ini tidak hanya memberikan tingkatan kualitas yang lebih tinggi sebelum dilepas ke publik atau pengguna, tapi juga dapat menghemat banyak waktu dan usaha dari pada pengujian manual yang terlalu luas dan melelahkan. Tim percepatan transformasi digital sering mempromosikan praktek-praktek seperti Test Driven Development, di mana unit test program ditulis sebelum kode ditulis. Menggunakan praktek ini menciptakan tes yang menjamin bahwa tim pengembangan DevOps software akan otomatis melakukan pengujian pada tiap unit kode.

  4. Sistem Integrasi Berkesinambungan (Continuous Integration atau CI)

    Setelah tes regresi otomatis, sistem integrasi berkesinambungan memungkinkan untuk melakukan validasi secara otomatis pada seluruh kode pemrograman dari beberapa pengembang atau tim. Sebagai satu set lengkap tes regresi dijalankan setiap kali pengembang memeriksa kode yang baru dibuat. Jika tes gagal, kode yang menyebabkan kegagalan tidak bisa diintegrasikan ke dalam basis kode, dan pengembang diberitahu tentang kegagalan tersebut. Dengan cara ini, hanya kode yang tidak cacat sistem akan dimasukkan ke dalam lingkungan yang terintegrasi. Tes lain seperti analisis skema dapat dijalankan untuk memvalidasi integritas pembangunan yang dapat membantu memastikan bahwa kode terintegrasi dalam tingkat kualitas yang tinggi. Penghematan besar dapat terjadi ketika CI sudah diterapkan dengan baik dan juga agar DevOps dapat lebih efektif lagi.

  5. Penyebaran Berkelanjutan

    Langkah logis berikutnya setelah integrasi berkesinambungan adalah praktek penyebaran berkelanjutan atau Continuous Delivery (CD). Praktik penyebaran terus-menerus merupakan kelanjutan dari praktik integrasi berkesinambungan dengan secara otomatis menempatkan kode untuk lingkungan berikutnya yang berpotensi untuk menyebarkan ke sistem produksi. Karena biaya kegagalan software atau aplikasi akan jauh lebih tinggi setelah mereka berada dalam lingkungan produksi. Beberapa tim DevOps software mungkin ingin mempekerjakan tes manual tambahan, meskipun tim yang matang memiliki proses penyebaran full otomatis tanpa intervensi manual. CD sangat diperlukan agar Devops dapat lebih efektif memberikan software atau fitur baru yang berkualitas.

  6. Intelejensi Pembangunan

    Intelejensi pembangunan adalah penggunaan data warehouse dan data business intelligence yang dapat membantu tim developer software menilai proses dan efektivitas pengiriman. Data dapat dikombinasikan dan mencakup seluruh organisasi. Data ditampilkan melalui dashboard yang terintegrasi yang akan menginformasikan tim mengenai cara yang harus mereka lakukan. Hal ini juga memberikan wawasan ke daerah-daerah yang mungkin untuk diperbaiki. Mereka mungkin dapat mengungkap kemacetan atau bottleneck dalam proses atau memberikan umpan data ke tingkat portofolio, dengan menyediakan transparansi.

elitery devops services

Ada banyak kebingungan tentang apa itu arti DevOps sebenarnya. Secara sederhana, DevOps adalah tentang mengoptimalkan penyebaran perangkat lunak dan proses pengiriman melalui penggunaan otomatisasi, perangkat DevOps dan teknik.

Enam strategi pembangunan tersebut akan membantu tim DevOps software anda dalam mengoptimalkan aliran dan memberikan time-to-market lebih cepat. Sehingga fitur baru software atau aplikasi anda akan memiliki tingkatan kualitas yang lebih tinggi. Dengan demikian, agar DevOps dapat lebih efektif lagi maka ikut enam langkah tersebut diatas. Semoga bermanfaat untuk seluruh tim DevOps Indonesia.

Artikel Terkait

Comment (1)

  1. […] Dalam memenuhi tuntutan kualitas pelayanan, organisasi harus memahami praktik terbaik yang dibutuhkan agar DevOps dapat lebih efektif memberikan hasil.  […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *