Bagaimana Sejarah Sel Surya dalam Sistem PLTS

Sebelum Anda mempelajari lebih jauh tentang bagaimana sistem kerja PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), terlebih dahulu Anda harus mengetahui bagaimana sejarah sel surya dalam sistem tersebut. Sel surya merupakan salah satu komponon penting dalam sistem PLTS yang fungsinya adalah mengubah energi matahari menjadi energi listrik yang nantinya bisa kita ginakan. Benda yang mampu mengonversikan energi matahari menjadi energi listrik ini hanya berukuran antara 10- 15 cm persegi saja. Tidak terlalu besar secara fisik, tetapi fungsinya sangat besar.

Sel surya adalah komponen vital yang pada umumnya terbuat dari bahan semi-konduktor. Bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sel surya ini adalah bahan multicrystalline silicon. Mengapa? Hal ini disebabkan karena penggunaan multicrystalline atau monocrystalline silicon dinilai lebih efisien dan mampu menghasilkan listrik lebih besar ketimbang bahan amorphous silicon.

Sejarah Sel Surya dalam Sistem PLTS

Sejarah Pembangkit listrik tenaga surya

Tenga listrik yang berasal dari energi matahari pertama kali ditemukan oleh ahli Fisika asal nergara Perancis yaitu Alexandre – Edmund Becquerel pada tahun 1839. Dan akhirnya temuan mereka menjadi cikal bakal munculnya teknologi sel surya. Percobaan tersebut dilakukan dengan cara menyinari dua elektroda dengan berbagai cahaya. Elektroda tersebut dibalut menggunakan bahan yang sifatnya sensitif terhadap cahaya, yYaitu bahan AgCl dan AgBr. Percobaan tersebut dilakukan pada kotak berwarna hitam yang sudah dikelilingi oleh campuran asam.

Dalam percobaan mereka tersebut, ternyata energi listri semakin meningkat ketika intensitas cahaya juga meningkat. Kemudian penelitian Bacquerel tersebut dilanjutkan lagi oleh para peneliti lain yang masih penasaran dengan hasil penelitian tersebut. Kemudian pada tahun 1873, seorang insinyur asal Inggris bernama Willoughby Smith menemukan komponen selenium yang menjadi sebuah elemen photo cnductivity. Elemen inilah yang kemudian menambah panjang sejarah sel surya. Tiga tahun berselang tepatnya pada tahun 1876, William Grylls dan Richard Evans Day akhirnya membuktikan bahwa selenium tersebut bisa menghasilkan arus listrik ketika selenium disinari cahaya matahari secara langsung. Dan akhirnya penemuan mereka tersebut menghasilkan kesimpulan bahwasanya selenium mampu mengubah energi panas dari matahari menjadi energi listrik.

Akan tetapi karena pada saat penelitian tersebut tidak ada bagian yang bergerak atau panas, dinyatakan bahwa ternyata sel surya ini tidak cocok digunakan untuk menggerakkan atau menyalakan perabotan listrik. Namun pada tahun 1894, seorang peneliti bernama Charles Fritts membuat sel surya pertama yang dibuat dari selenium yang sebenarnya adalah bahan semi-konduktor. Tetapi sel surya yang dibuat olehnya ini dibalut dengan lapisan emas yang tipis. Ternyata hasil percobaannya tersebut masih belum memenuhi target juga dan tidak bisa digunakan sebagai sumber energi karena tingkat efisiensinya hanya mencapai 1% saja. Akan tetapi kemudian penemuan dari Charles Fritts tersebut digunakan sebagai alat sensor cahaya.

Sejarah sel surya berlanjut pada tahun 1905, ketika salah satu orang paling jenius di Dunia, Albert Einstein mempublikasikan tulisan yang membahas tentang photoelectric effect. Tulisannya tersebut mengatakan bahwa sebenarnya cahaya terdiri dari quanta of energi atau paket-paket tertentu yang sekarang disebut dengan photon.

Akhirnya pada tahun 1982, seorang Australia bernama Hans Tholstrup mengendarai mobil bertenaga surya sejauh 4000 km dalam waktu 20 hari dan mampu mencapai kecepatan maksimum 72 km/jam. Dan pada tahun 2007 University of Delawar mampu mencatatkan sejarah sel surya karena mampu mencapai efisiensi energi mencapai 42,8%. Dan akhirnya penemuan tersebut dikomersialisasikan untuk digunakan sebagai sumber daya listrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *