Archives for : Teknologi Data Center

Apa Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memilih Cloud Backup ?

Pencadangan secara online semakin dibutuhkan oleh seluruh bisnis di Indonesia. Meningkatnya serangan cyber membawa kebutuhan akan pencadangan data penting bisnis juga semakin meningkat. Dalam memilih cloud backup ada beberapa faktor penting yang perlu anda perhatikan. Kami akan mengulas 9 hal penting untuk diperhatikan dalam memilih layanan cloud backup.

Apa Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memilih Cloud Backup

9 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memilih Cloud Backup

Berinvestasi dalam layanan backup data awan adalah salah satu keputusan terbaik yang dapat dibuat oleh pemilik bisnis. Bencana bisa menimpa bisnis Anda dan menghancurkan sistem Anda, seorang karyawan dapat menumpahkan minuman ke komputernya dan menghancurkannya atau seseorang dapat mencuri peralatan Anda. Dengan memiliki cadangan data ataupun infrastruktur IT secara keseluruhan (bagi organisasi skala besar) dapat mencegah hambatan pada operasional bisnis anda.

Berikut 10 hal penting yang perlu anda perhatikan dalam memilih layanan cloud backup:

  • Penyimpanan

    Anda harus menghitung terlebih dahulu berapa kapasitas penyimpanan yang diperlukan. Katakanlah minimum dan maksimum sekian GB. Banyak provider cloud backup yang mulai menerapkan harga per 1 GB. Dengan mengetahui kebutuhan ruang penyimpanan, anda dapat memilih cloud backup yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

  • Skalabilitas

    Memang tidak semua pelaku bisnis mudah dalam menghitung kebutuhan penyimpanan. Oleh karena itu anda dapat memilih cloud backup yang dapat memberikan fleksibilitas secara cepat sesuai dengan kebutuhan ruang penyimpanan anda, baik itu semakin membesar atau mengecil.

  • Tingkat Uptime

    Ini merupakan hal terpenting dalam memilih cloud backup. Jika anda lebih sering mengakses file atau data yang disimpan pada online backup, tentunya anda harus memilih layanan cloud backup yang memiliki tingkat uptime yang tinggi juga. Perhatikan infrastruktur data center yang digunakan oleh penyedia layanan cloud tersebut. Sebuah data center dengan sertifikasi TIER III dari Uptime Institute dapat menjamin ketersediaan akses terus menerus hampir tanpa downtime.

  • Pemulihan Bencana

    Vendor dapat membuat semua jaminan uptime yang mereka inginkan, namun kenyataannya adalah kejadian tak terduga, seperti serangan cyber yang dapat mematikan server dan membuat data Anda tidak dapat diakses. Salah satu contohnya adalah serangan penolakan layanan terdistribusi (DDoS) yang melanda 26 situs web bank di A.S. selama musim liburan 2012-2013. contoh lainnya adalah ketika server Amazon di Virginia Utara mendadak offline karena badai petir yang parah. Kejadian tersebut membuat layanan utama seperti Netflix, Instagram dan Pinterest menjadi terhenti. Jika institusi besar bisa terkena, maka usaha kecil bisa terkena juga. Sementara downtime tidak selalu dapat dicegah, yang penting adalah memastikan layanan cloud backup yang Anda pilih dapat memberikan rencana pemulihan bencana yang efektif dan efisien untuk dapat kembali pulih dan online. Ini bisa berarti apa saja dari backup multilokasi hingga mitigasi cyberattack.

  • Frekuensi Backup

    Anda akan mengerjakan file dan memperbarui informasi sepanjang hari. Anda memerlukan ketenangan pikiran bahwa versi terbaru selalu dicadangkan. Jadi, sangat penting untuk mengetahui frekuensi pencadangan data ke layanan cloud dan bagaimana hal itu dilakukan. Praktik penyedia layanan cloud backup sangat bervariasi, jadi ada yang lebih cocok untuk jenis bisnis Anda daripada yang lain. Misalnya, beberapa layanan mencadangkan file saat Anda membuat perubahan, jadi ini bisa berarti apa saja dari membackup keseluruhan file lagi atau hanya menyinkronkan file sehingga hanya memback-up perubahan yang Anda buat. Beberapa layanan juga menawarkan frekuensi backup per jam, harian, bulanan atau lainnya. Sementara yang lain membiarkan Anda mengatur jadwal pencadangan sendiri. Ini akan lebih pada fitur yang perlu diperhatikan dalam memilih cloud backup.

  • Keamanan

    Seberapa aman data Anda di awan? Penjahat dunia maya semakin canggih. Anda harus mendapatkan informasi dari website penyedia layanan cloud backup tentang bagaimana data Anda terlindungi. Beberapa hal yang harus dicari mencakup setidaknya enkripsi 256-bit saat istirahat dan selama transit (dalam penyimpanan dan saat dikirim ke dan dari server), Secure Socket Layer (SSL), dan penyimpanan data lokal dan off-site. selain pada teknologi cloud, anda juga harus perhatikan data center yang digunakan apakah memiliki sertifikasi ISO 27001 atau tidak.

  • Harga

    Sebagian besar model penetapan harga layanan cloud backup adalah sederahana. Biasanya, harga didasarkan pada jumlah penyimpanan dan fitur yang ditawarkan, dan akan ditagih setiap bulan atau setiap tahun. Dengan demikian, harga bervariasi di setiap provider. Sebagai contoh, paket termurah berharga Rp. 10 juta per tahun dengan kapasitas penyimpanan 250GB, server fisik dan virtual, database, aplikasi langsung dan fitur lanjutan lainnya. Di Indonesia, ada sebuah layanan Disaster Recovery as a Services (DRaaS) yang menetapkan harga Rp. 2.500 per 1 GB/bulan. Layanan tersebut sangat cocok untuk pencadangan seluruh operasional IT perusahaan skala menengah, sehingga bisnis anda dapat lebih terbebas dari gangguan dan downtime.

  • Dukungan

    Dengan menggunakan layanan backup online, Anda mempercayakan dasar operasional bisnis Anda kepada penyedia pihak ketiga. Anda ingin tahu bahwa mereka memiliki dukungan saat ada yang tidak beres atau saat Anda memerlukan pertolongan. Sementara beberapa server menawarkan dukungan yang sangat baik, yang lain mungkin juga tidak ada. Anda dapat memilih cloud backup provider yang bisa dihubungi melalui berbagai saluran, seperti telepon, email, chat bahkan media sosial.

Demikian 9 hal penting dalam memilih cloud backup agar anda dapat memiliki layanan pencadangan yang selalu dapat diandalakan dan sesuai dengan kebutuhan bisnis anda. Dengan mendapatkan layanan cloud backup yang dapat diandalkan, anda dapat terhindar dari berbagai risiko. Serangan cyber semakin meningkat, cuaca semakin ekstrim, inilah saat nya untuk mulai memahami kebutuhan ‘baru’ dalam bisnis anda. Jangan tunggu data anda hilang dan tidak dapat dikembalikan.. segera mulai pakai layanan cloud backup.

Membangun Arsitektur Pemulihan Bencana dengan Cloud dan Colocation

Membuat rencana pemulihan bencana yang kuat bukanlah sebuah tugas kecil untuk tim IT. Menjelajahi bagaimana cloud dan colocation dapat meningkatkan strategi DR perusahaan dapat membantu team IT dalam mempersiapkan diri untuk saat terburuk. Sebagaimana teknologi terus berkembang, arsitektur pemulihan bencana di tiap perusahaan perlu mengikuti perubahan tersebut. Hal ini ditujukan agar strategi pemulihan bencana dapat tetap efektif dan efisien.

Teknologi Hybrid untuk Arsitektur Pemulihan Bencana

Pemulihan bencana atau Disaster Recovery dipandang sebagai jaminan kelancaran operasional IT jangka panjang. Selama bertahun-tahun strategi pemulihan bencana telah menjadi fokus utama bagi bisnis perusahaan besar. Dan, karena lebih banyak beban kerja perusahaan bergerak off-site, akhirnya mereka merasa perlu sebuah arsitektur pemulihan bencana dengan menggunakan cloud dan colocation untuk memenuhi kebutuhan spesifik mereka.

Tapi sebelum memulai, ada baiknya para pimpinan IT mengevaluasi pro dan kontra mengenai penggunaan cloud vs colocation untuk pemulihan bencana. Hal ini akan mencakup jarak geografis, pilihan kelangsungan bisnis, jaminan ketersediaan atau SLA dan biaya keseluruhan.

Juga, mengingat risiko kelumpuhan sistem dan peningkatan downtime yang membuat IT keluar dari loop, penting untuk merencanakan dan menguji arsitektur pemulihan bencana Anda sebelum masalah terjadi- apakah menggunakan cloud, colocation atau model lain. Belajar dari studi kasus downtime dari perusahaan lain dapat meningkatkan kualitas rencana BCP Anda dalam memenuhi kebutuhan bisnis yang terus berkembang.

Pro dan Kontra Menggunakan Colocation vs Coud untuk Disaster Recovery

Cloud dan colocation menawarkan pilihan yang berbeda pada tim IT dalam membangun arsitektur pemulihan bencana. Secara umum, kedua model tersebut memberikan alternatif yang lebih efisien dan hemat biaya bagi organisasi ketimbang membangun pusat data lain untuk tujuan pemulihan atau disaster recovery. Namun ada perbedaan yang perlu diingat. Beberapa pro dan kontra Cloud DRaaS vs Colocation DR sebagai pemulihan bencana (Disaster Recovery / DR), patut dipertimbangkan mulai dari perbedaan biaya keuangan dan geografis, sebelum memutuskan pilihan yang tepat untuk perusahaan Anda.

Arsitektur Pemulihan Bencana Menggunakan Cloud dan Colocation

Platform cloud dibagi di antara beberapa pengguna, platform cloud yang ter-arsitektur dapat menutupi kegagalan peralatan tunggal. Hal ini mengikuti adopsi model N + M untuk sebagian besar. Namun, ada terlalu banyak kegagalan di pada platform cloud di mana penyedia memotong sudut dan hanya menerapkan strategi N di daerah-daerah tertentu, seperti pengendali saluran fiber optik pada area penyimpanan jaringan (SAN), atau dalam koneksi jaringan WAN.

Ketika Anda berbicara dengan penyedia, dan membangun rencana kesinambungan bisnis operasional IT dengan cloud, pastikan semua aspek platform ditutupi oleh redundansi yang disediakan. Hal ini akan termasuk pendingin, UPS dan sistem pasokan daya tambahan lainnya.

Dengan membicarakan kebutuhan jangka panjang anda pada penyedia cloud dapat membantu anda dalam mempertimbangkan untuk menggunakan antara Cloud dengan Colocation pada arsitektur pemulihan bencana anda. Pendekatan hemat biaya dapat dengan menyortir aplikasi dan data apa saja yang dibutuhkan untuk mengambil alih operasional ketika data center primer mengalami masalah. Untuk beban kerja prioritas tinggi, menggunakan warm-images atau menggunakan colocation server dapat mengalihkan operasional pada situs cadangan. Dengan meggunakan colocation, sistem anda dapat berjalan bersama data cadangan terakhir yang tersimpan. Anda dapat menggunalan cloud untuk cold-image atau untuk beban kerja yang kurang penting.

Baca juga mengenai: Manajemen Penyimpanan Data

Colocation masih relatif mahal, karena pada dasarnya cerminan penuh situs utama baik untuk sistem maupun data. Sedangkan untuk beban kerja yang kurang urgensinya, perusahaan dapat memakai Cloud.

Teknologi Hybrid untuk Disaster Recovery

Pada dasarnya, Cloud juga memakai infrastruktur data center fisik (on-premise). Oleh karena itu, perusahaan wajib tetap menanyakan infrastruktur data center yang digunakan oleh penyedia cloud tersebut. Di Indonesia, sebuah Data Center khusus untuk Disaster Recovery mulai digunakan perusahaan teknologi cloud data center terbesar di Jepang “Fujitsu” sebagai infrastruktur cloud mereka.

Ketika membangun rencana kesinambungan bisnis, platform cloud dapat menawarkan pendekatan yang jauh lebih fleksibel dan hemat biaya daripada colocation. Namun, banyak penyedia colocation bermitra dengan penyedia cloud untuk menawarkan sistem hybrid. Teknologi cloud data center yang digabungkan dengan infrastruktur data center state-of-the-art akan menghasilkan sebuah layanan cloud yang lebih dapat diandalkan pada banyak situasi.

Sebuah platform cloud modern dapat lebih cepat melakukan pengalihan ke sistem cadangan dan pemulihan. Teknologi Hybrid ini dinamakan Disaster Recovery as a Services (DRaaS). Ini jauh lebih baik daripada mencoba untuk memulihkan segala sesuatu dari backup data, di mana masalah sebenarnya adalah untuk meminimalkan waktu antara titik tujuan pemulihan dan tujuan waktu pemulihan.

Efektivitas strategi pemulihan bencana dapat diukur dari seberapa cepat dalam melakukan Fail-Over dan Fail-Back. Namun yang lebih terpenting lagi adalah dengan selalu melakukan evaluasi dan pengujian secara terus menerus. Terutama untuk suatu bisnis yang operasionalnya selalu bergantung pada kelancaran infrastruktur IT.

Ada baiknya perusahaan mengkombinasikan infrastruktur IT mereka dengan Cloud dan on-premise data center. Misal untuk data center operasional menggunakan colocation server, dan untuk DR Plan menggunakan solusi cloud DRaaS.

Downtime selalu datang tak terduga dan mengejutkan para pimpinan perusahaan. Oleh karena itu, para pimpinan perusahaan terutama CFO (Chief Financial Officer) harus memahami besarnya intangible cost yang disebabkan oleh satu kejadian downtime.

Sekali downtime terjadi, puluhan hingga ratusan milyar dapat melayang.. oleh karena itu strategi pemulihan bencana wajib di dukung dengan solusi pemulihan bencana. Jika colocation DR dianggap sebagai sesuatu yang mahal, maka kini sudah ada solusinya yakni Disaster Recovery as a Services yang biayanya di hitung per 1 GB per bulan, mulai dari Rp. 2.500 / 1 GB.

Para manajer keuangan dapat menekan biaya disaster recovery dengan meneliti aset-aset kritis pada Business Impact Analysis. Hal tersebut dapat menghemat pengeluaran perusahaan, namun tidak mengorbankan efektivitas rencana pemulihan bencana anda.