Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca

efek rumah kaca

Yang dimaksudkan adalah terperangkapnya radiasi inframerah oleh atmosfer bumi, yang dapat meningkatkan temperature rata-rata di permukaan seluruh bumi, sama seperti terperangkap radiasi inframerah dalam sebuah kaca yang menyebabkan temperature di dalamnya meningkat.

Temperatur keseluruhan permukaan bumi, yang dirata-ratakan untuk semua musim dan cuaca, bergantung pada keseimbangan yang tepat antara banyak radiasi yang tiba kepada kita dan banyak radiasi yang dipantulkan kembali ke angkasa. Sekitar sepertiga energi matahari yang menerpa bumi dipantulkan kembali, sisanya diserap oleh awan, daratan, laut, dan para penggemar matahari. Kebanyakan energi yang diserap segera di terbangkitkan menjadi panas, atau radiasi inframerah, sama seperti yang terjadi dalam sebuah kaca.

Di atas permukaan bumi yang meradiasikan panas ada sebuah kanopi atau tenda yang transparan, sama seperti kaca di sebuah rumah kaca. Akan tetapi kanopi itu bukan terbuat dari kaca, melainkan berwujud sebuah lapisan udara, yakni atmosfer. Seperti kaca, atmosfer bumi sangat transparan bagi semua radiasi yang dating dari matahari. Akan tetapi gas-gas tertentu di atmosfer, terutama karbon dioksida dan uap air, adalah penyerap radiasi inframerah yang sangat efisien. Sama seperti rumah kaca, gas-gas ini menahan lolosnya sebagian radiasi inframerah ke ruang angkasa, dan membuatnya terperangkat dekat permukaan bumi. Akibatnya bumi menjadi agak hangat dibanding seharusnya andaikata atmosfer tidak mengandung karbon dioksida dan uap air.

Protes radiasi yang ke bumi dan yang ke luar lagi semula senantiasa menyeimbangkan diri, alhasil planet kita, alhasil planet kita memiliki temperature rata-rata yang kurang lebih sama lebih dari ribuan tahun. Akan tetapi kegiatan manusia belakangan ini telah mengubah keadaan itu. Sejak revolusi industry dimulai sekitar ratusan tahun silam, kita telah membakar batu bara, gas alam, produk-produk minyak bumi dengan laju yang terus meningkat. Ketika semua bahan bakar ini di bakar ini di bakar, proses tersebut menghasilkan karbon dioksida yang selanjutnya melayang ke udara. Akibatnya jumlah karbon dioksida di atmosfer telah meningkat sekitar 30% dibanding dengan ratusan tahun silam. Makin banyak karbon dioksida berarti makin banyak radiasi inframerah yang terperang dan makin tinggi temperature.

Besar pemanasan bumi yang di dapatkan oleh tambahan karbon dioksida sebanyak itu sulit didapatkan. Di satu pihak, lautan dan hutan mengurangi efek tersebut dengan menyerap karbon dioksida dari udara. Dipihak lain, hutan hujan di dunia yang tersisa dengan cepat semakin berkurang akibat penebangan dan pembakaran tak terkendali, yang pada gilirannya memperumit masalah dengan menyumbangkan karbon dioksida lebih banyak lagi ke udara. Walaupun kita mungkin tidak dapat menentukan besar pemanasan bumi yang di sebabkan oleh karbon dioksida buatan manusia, kenyataan telah membuktikan bahwa temperature rata-rata bumi naik secara tidak wajar selama ratusan tahun-tahun terakhir, dan muungkin akan masih naik lagi antara 0,8o C hingga 2,5o C selama ratusan tahun mendatang karena jumlah karbon dioksida di udara menjadi dua kali lipat.

Kenaikan temperature beberapa derajat saja mampu berakibat sebuah bencana. Jika suhu di Kutub Utara dan Kutub Selatan menjadi lebih hangat, sejumlah besar es yang mencair akan menaikkan tinggi permukaan air laut dan akan menenggelamkan kota-kota pantai di seluruh dunia. Dampak yang paling ringan adalah perubahan pola cuaca bumi, dengan konsekuensi bermakna yang harus di tanggung oleh sistem produksi pangan dan pasokan air. Rumah kaca alami planet kita boleh jadi sama mudah pecahnya dengan rumah kaca tanaman yang betul-betul terbuat dari kaca.

 

Kesimpulan : Lebih baik jangan terlalu banyak menggunakan rumah kaca, karena akan berdampak sangat buruk pada keadaan dan kesehatan bumi. Bila bukan kita yang mencintai bumi kita sendiri, lalu siapa lagi?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *