Generasi Suram Indonesia

Setelah pemerintah lebih mementingkan produk mobil murah asing ketimbang produk mobil nasional Indonesia, kemudian juga terdapat ketua hakim Mahkamah Konstitusi yang mencari uang dengan cara menerima suap korupsi dari para calon kepala daerah, tentunya ini bukanlah merupakan contoh yang baik untuk generasi penerus di Indonesia.

Gubernur Jakarta Jokowi memang sudah menerbitkan peraturan untuk merazia para pelajar yang keluyuran malam, akan tetapi tentunya ini belum tentu efektif secara maksimal jika tidak dari masyarakat sendiri yang melakukan penertiban untuk para pelajar yang keluyuran atau bergadang di malam hari, terutama untuk para orang tua.

Seperti contoh di Jakarta Selatan (Bintaro Permai III) tempat kami berlokasi, setiap malam di depan rumah selalu banyak anak-anak SMA, STM dan SMK yang bergadang dengan main kartu remi atau gaple, terkadang ada yang minum alkohol padahal yang notebene juga di depan rumah mereka sendiri . Kegiatan ini bisa berlangsung sampai azan subuh dan sering menimbulkan kegaduhan. Walaupun sudah sering di nasihati tetap saja mereka bergadang sampai pagi sembari main kartu remi.

[adsenseyu1]

Entah bagaimana mereka belajar disekolah, atau mungkin kualitas pendidikan di Indonesia yang semakin menurun karena disebabkan para kepala sekolah sibuk urus kolusi proyek Bantuan Operasional Sekolah bersama para Sudin sehinggi sudah tidak mau tahu lagi dengan kualitas pendidikan di sekolahnya ? Inilah yang termasuk pemborosan pajak.

Inikah Generasi Penerus Indonesia ?

Peraturan memang diperlukan, akan tetapi pelaksanaan peraturan juga turut menentukan efektifitas peraturan tersebut. Peraturan dibuat untuk memberikan manfaat pada banyak orang, sama seperti peraturan dilarang korupsi namun sepanjang pelaksanaan peraturan tersebut dan penegakan hukum masih minim maka peraturan tersebut seperti kerupuk gembos.

Jika para pemuda pelajar di Indonesia sibuk ‘nongkrong’ atau ‘kongkow’ sampai pagi setiap hari, apapun aktivitas mereka, sudah barang tentu kualitas berpikir mereka akan menurun karena tubuh menyerap gas karbon di malam hari dan sel syaraf yang semakin berkurang kualitasnya lantara saat zat Oksigen yang dibutuhkan pada saat tidur untuk memperbaiki sel syaraf tersebut sangat kurang.

Mungkin perlu adanya penyaluran seperti lapangan olah raga dan ruang hijau di kota besar Indonesia, agar supaya para warganya dan termasuk para pelajar dapat menikmati hidup sehat.

Jika Generasi Penerus di Indonesia semakin memble kualitasnya

Sudah barang tentu negara ini akan terus “dijajah” baik secara ekonomi, politik dan teknologi oleh bangsa lainnya, apa yang mau di harapkan pada pelajar yang hobby nongkrong begadang sampai pagi ? sementara para pelajar di negara lain sibuk belajar kemudian tertidur dimalam hari dan secara segar beraktivitas di pagi hari.

Setelah selesai mereka Sekolah (ya kalau lulus), para pelajar yang hobby bergadang dan main kartu remi serta ketawa cekak cekikik sampai pagi tidak dapat melakukan aktivitas di pagi hari terutama untuk melakukan pekerjaan dalam hal mencari nafkah. Dengan demikian tingkat pengangguran akan semakin tinggi dan ini akan menjadi beban pemerintah selanjutnya.

Tayangan televisi pun harusnya dibatasi atau disosialisasikan untuk batas jam menonton bagi pelajar, cukup berikan tayangan hiburan berkualitas antara Jam 19.00 sampai jam 21.00. Saat ini tayangan hiburan di televisi memang terlalu monoton seperti acara artis lawak yang itu-itu sajam acara joget yang itu-itu saja .. tentu sangat membosankan.

Nah .. untuk adik-adik yang hobby begadang setiap hari, sudah saatnya tinggalkan kebiasaan tersebut .. karena untuk dapat bekerja efektif nantinya kita memang sangat perlu hidup teratur.

Comments (2)

  1. H.Abd. hamid

    assalamu’alaikum
    melihat kenyataan pendidikan sekarang ini,sangat-sangat prihatin mengapa tidak ? kenyataan lulusan sekolah sekarang ini masih banyak yang mencari pekerjaan,bukan sebaliknya pekerjaan mencari tenaga. Kesimpulannya Anak sekarang tak ubahnya sebagai ROBOT Hidup yang kerjanya minta diperintah tidak lagi berfikir bagaimana mencari solusi. menyelesaikan permasalahan yang ada.jika ini terjadi maka kita hanya sebagaim penonton,sebagai konsumen semua produk yang ada baik teknologi,pertanian ,perekonomian dsb

    • waalaikum salam,

      memang seperti itu, ini tidak lepas dari pemimpin dan para pejabat yang hanya memikirkan duniawi saja .. sehingga pendidikan agama terutama agama islam yang merujuk pada Al-Qur’an dan Al Hadist malah di anggap “pelajaran kampungan” dan ironisnya hal ini muslim sendiri yang menganggap demikian, walau mereka sholat, mereka memakai pakaian muslim .. namun Al-Qur’an sudah tidak menjadi rujukan lagi ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *